Ahmaddahri.my.id - Akhirnya, setelah beberapa waktu agak mengurangi energi untuk menulis, mungkin tepat di hari "lahirnya" pancasila ini agaknya bisa jadi awal untuk memulai kembali, memulai apa yang biasanya jadi eluh-eluhannya tidak sedikit orang; menulis. Ya, menulis dapat menjadi piranti untuk membuka dan menyadari imposter syndrom yang kerap di alami oleh siapapun, termasuk saya.
Istilah imposter sydrom sebenarnya lebih pada rasa ragu dan takut, karena merasa kurang percaya diri atau justru karena kerap menerima tekanan yang menghardik secara mental, akhirnya muncullah syndrom ini. Mental, tentu masalah utamanya adalah kesadaran yang akhirnya menata mental kita. Pilihannya adalah mengikuti ketakukan atau justru maju melawan ketakutan ini.
Ini yang sebenarnya sedang saya rasakan, bukan takut atas resiko menulis dengan gaya atau konten yang menjadi passion, tetapi lebih pada rasa jenuh, takut sia-sia, takut tidak berdampak, takut ini dan itu, dst. Padahal problemnya ada pada diri sendiri, pada pola dan management personal saat mengolah dan mengelola kesadaran itu sendiri.
Akhir-akhir ini, saya melihat agaknya yang paling ramai terjual di pasar adalah buku-buku atau artikel yang muatannya adalah pengembangan diri, tentang self love, atau apapun yang berkaitan dengan pola untuk mengenal kembali diri sendiri, pun buku-buku sastra atau fiksi, tidak sedikit novel yang laku keras adalah tentang bagaimana menggugah dan memantik diri untuk bisa keluar dari jerembab lingkaran setan.
Setelah banjir literasi stoa, entah itu kaitannya dengan filsafat atau agama, nyatanya pola ini juga mempengaruhi, sehingga muncul slow living, self healing, dst. Artinya, sebesar dan setipis itu pertahanan mental yang sedang terdobrak, entah oleh ketakutannya sendiri atau memang ada sistem yang dengan sengaja meruntuhkan rasa percaya diri. Ini tentu menurut keyakinan dan hipotesis saya, tidak karuan begitu adanya.
Kadang juga menyalahkan generasi, yang kebanyakan terklasifikasi dengan generasi millenial, zillenial, alfa dan lain sebagainya. Bisa jadi, bukan masalah generasi, tetapi masalah fase saja. Fase di mana hampir semua orang pada akhirnya turut serta dengan fasilitas teknologi, perkembangan zaman dan ragam rangkaian algoritma yang menggiring. Semua itu adalah bagian dari hidup yang harus dijalani, bukan lalu ditentang, namun akhirnya juga mengikuti alurnya. Bersosmed dengan sehatlah, bersosmed dengan bijak, atau apapun dalihnya.
Bahasa atau istilah yang disopan-sopankan adalah bentuk kemunafikan, terkadang untuk melindungi diri dari stigma atau asumsi, maka merubah istilah atau ngepas-ngepasne agar dilihat tidak ikut arus. Nyatanya ya keblasuk, apapun alasannya.
Intinya, ada berbagai visual tentang perubahan sosial saat ini, nggak pendidikannya, agamawannya, akademisinya, pun pemerintahnya. Kehadiran, nirempati, masa bodoh, dan bahkan acuh, yang penting perutnya sendiri kenyang, aman dan serba tidak kekurangan, maka yang lain bukan menjadi tanggung jawab moralnya.
Mempertanyakan perubahan sosial memang kerap berjumpa dengan kondisi skeptis, overoptimis, dan njelehi, gateli. Tapi mau bagaimana, dalam filsafat jawa dikenal bedja-bedja sing iling, sing waras. Selagi masih ada kontrol dalam diri, maka kesadaran adalah keniscayaan, karena ketika spiritualitas dan religiusitas memiliki panggung megah, maka intelektualitas harus menjadi kontrol, lebih-lebih melahirkan sensitifitas dan mental yang kokoh.
nggladrah.

Komentar
Posting Komentar