Sirkus Perdebatan

Ahmaddahri.my.id - Ada satu hukum tidak tertulis dalam dunia talk show politik, bahwa semakin panas suasana, semakin tinggi ratingnya. Jika diskusi berjalan tenang, penuh data, dan selesai tanpa teriakan, kemungkinan besar dianggp sebagai tontonan yang gagal. Pertunjukkan di public, bagaimanapun juga hidup dari drama.

Dalam acara Rakyat Bersuara misalnya, seorang narasumber akhirnya diminta keluar studio oleh moderator Aiman Witjaksono, publik tidak benar-benar terkejut. Karena yang mengejutkan justru sebaliknya; betapa familiar pemandangan itu terasa.

Tokoh yang diminta keluar adalah Permadi Arya, setelah perdebatan panas dengan pakar hukum tata negara Feri Amsari. Tema diskusi sebenarnya cukup serius antara hubungan historis Indonesia dengan Palestina dan alasan mengapa Indonesia secara konsisten mendukung perjuangan Palestina di panggung internasional.

Sumber: Inews


Namun seperti banyak diskusi publik di televisi Indonesia, topik besar itu tidak bertahan lama di wilayah analisis. Ia segera bergeser ke wilayah yang lebih emosionalsaling potong, saling serang, dan akhirnya seperti yang sering terjadi saling meninggikan suara, walaupun ada yang benar-benar bijak dengan mendiamkan, karena riuhnya suara hanya akan berhenti saat telinga tak benar-benar mendengarkannya.

Klip video insiden tersebut segera viral. Di media sosial, peristiwa itu dibaca dengan berbagai asumsi, ada yang melihatnya sebagai kemenangan akal sehat, ada pula yang melihatnya sebagai bentuk pembungkaman. Tetapi jika kita mengambil jarak dari hiruk pikuk itu, insiden ini sebenarnya menyimpan dua cerita berbeda.

Pertama, cerita tentang bagaimana sejarah digunakan sebagai senjata dalam debat publik. Kedua, cerita tentang bagaimana ruang diskursus kita perlahan berubah menjadi panggung pertunjukan konflik. Dan sering kali, cerita kedua justru lebih menentukan daripada cerita pertama.

Fragmen Sejarah dan Jual Beli Logika

Perdebatan itu bermula dari satu argumen yang tampak sederhana, Indonesia mendukung Palestina karena ada hubungan sejarah. Dalam penjelasannya, Feri Amsari menyinggung dukungan dari tokoh bangsa Palestina terhadap perjuangan diplomasi Indonesia pada masa awal kemerdekaan.

Adalah Syekh Muhammad Amin Al-Husaini (Mufti Besar Palestina) yang menyuarakan dukungan di radio pada 1944, dan Muhammad Ali Taher. Ia adalah seorang saudagar kaya yang menyumbangkan seluruh uangnya di bank Arab untuk perjuangan Indonesia pada 1948.

Di titik ini, Permadi Arya langsung memotong dengan satu pernyataan yang terdengar tajam: pada tahun 1945 belum ada negara Palestina. Jadi, bagaimana mungkin Indonesia memiliki “utang sejarah” kepada sesuatu yang bahkan belum berdiri sebagai negara?

Kalimat itu terdengar seperti pukulan logika yang telak. Dan memang, dalam arti tertentu, ia tidak sepenuhnya salah. Palestina sebagai negara berdaulat memang belum terbentuk pada saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.

Tetapi di sinilah letak persoalannya, kebenaran itu hanya berlaku jika kita membaca sejarah dengan cara yang sangat sempit. Argumen yang disampaikan Feri Amsari sebenarnya tidak merujuk pada negara Palestina dalam pengertian administratif modern, melainkan pada tokoh dari bangsa Palestina terutama di dunia Arab yang mendukung perjuangan diplomatik Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Dukungan itu bersifat moral dan politik, bukan hubungan antarnegara formal seperti yang dipahami dalam sistem internasional saat ini.

Dalam sejarah diplomasi, fenomena seperti ini bukan hal aneh. Banyak gerakan kemerdekaan abad ke-20 mendapat dukungan dari jaringan politik lintas wilayah sebelum negara modern terbentuk secara resmi.

Namun dalam format debat televisi, nuansa seperti ini sering kali kalah oleh kalimat pendek yang terdengar lebih “pasti”.

Apa yang terjadi dalam perdebatan itu adalah contoh klasik dari teknik debat yang cukup popular, yaitu memotong konteks untuk memenangkan argumen. Sebuah fragmen fakta yang benar diambil dari keseluruhan narasi sejarah yang kompleks, lalu digunakan untuk menggugurkan seluruh argumen lawan.

Teknik ini sangat efektif dalam ruang diskusi yang bergerak cepat, seperti talk show televisi. Penjelasan historis yang panjang membutuhkan waktu, sementara potongan kalimat yang tegas hanya membutuhkan beberapa detik untuk terlihat meyakinkan.

Pada konteks ini, ibarat panggung pertunjukan, maka panggung utama harus dikuasai, walaupun harus dengan menjatuhkan lawan, bahkan mengumpat sekalipun dengan gaya slengekaan, atau menylengekkan diri.

Masalahnya, logika seperti ini sering menghasilkan kesimpulan yang terlihat rapi tetapi sebenarnya rapuh. Sebelum perbedaan interpretasi itu bisa dijelaskan dengan lebih jernih, perdebatan sudah lebih dulu berubah menjadi pertengkaran. Di titik inilah substansi mulai kalah oleh emosi.

Sayangnya, dalam dunia pertunjukkan, walaupun debat sekalipun, emosi biasanya lebih menarik untuk ditonton.

Industri Konflik

Apa yang terlihat di layar setelah itu tidak lagi menyerupai diskusi intelektual. Ia lebih mirip adegan dalam arena gladiator dalam versi lain yang dibungkus lampu studio dan kamera. Suara meninggi. Interupsi semakin sering. Sesekali muncul kata-kata kasar.

Fenomena ini sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari cara televisi atau platform terntu yang membangun format diskusi politik. Talk show modern tidak hanya berfungsi sebagai ruang pertukaran gagasan, sayangnya ia juga merupakan produk hiburan. Seperti halnya semua produk hiburan, konflik adalah bahan bakarnya.

Produser tahu bahwa debat yang tenang jarang menjadi viral. Sebaliknya, perdebatan yang meledak hampir selalu berakhir di timeline media sosial. Pun sebenarnya banyak juga debat atau talk show yang menawarkan gagasan, ide, dan pendekatan-pendekatan empirik, sayangnya tidak benar-benar diminati pasar.

Dalam ekosistem seperti ini, figur seperti Permadi Arya sebenarnya sangat cocok. Ia adalah produk sempurna dari budaya kontroversi digital, seseorang yang memahami bahwa perhatian publik sering kali datang dari keberanian untuk berkata keras dan berbeda.

Di sisi lain, strategi yang dimainkan Feri Amsari justru kebalikannya. Ia tidak mencoba menaikkan volume suara, melainkan membiarkan lawannya semakin emosional. Strategi ini cukup klasik dalam dunia debat: ketika satu pihak kehilangan kontrol, publik biasanya mulai meragukan kredibilitasnya.

Puncak drama terjadi ketika Feri meminta moderator mengambil tindakan. Di sinilah posisi Aiman Witjaksono menjadi menarik. Moderator talk show selalu berada dalam posisi yang serba salah. Jika terlalu cepat menengahi, diskusi bisa terasa kaku. Jika terlalu lama membiarkan konflik, forum bisa berubah menjadi kekacauan.

Tentu penilaian pada Aiman sebagai moderator dapat dikatakan sebagai keterlambatan. Karena kata-kata kasar sudah sempat terlontar sebelum keputusan untuk mengeluarkan Permadi Arya akhirnya diambil.

Namun keterlambatan itu juga memperlihatkan dilema yang lebih besar: televisi sering berada di antara dua kepentingan yang bertentangan menjaga kualitas diskusi atau menjaga intensitas tontonan. Sayangnya, dalam industri media modern, pilihan kedua sering kali lebih menggoda.

Insiden di studio itu menyisakan pertanyaan yang lebih besar dari sekadar siapa yang menang debat. Mengapa dalam isu geopolitik yang begitu kompleks, ruang diskursus publik kita justru lebih sibuk mempertontonkan konflik daripada memperdalam argumen? Barangkali jawaban sederhananya adalah konflik lebih mudah dijual daripada pemikiran.

Artinya, selama publik masih lebih menghargai drama daripada kedalaman analisis dan gagasan, maka, ibarat air melimpah di sungai, dari hulu ke hilir, namun penuh dengan sampah dan limbah.  Bukan karena kita kekurangan gagasan, tetapi karena kegaduhan sering kali terasa lebih menguntungkan daripada ketenangan berpikir.[]

Komentar