Tulisan ini terbit di Kompasiana
Ahmaddahri.my.id-Salah satu cita-cita besar dalam kehidupan bersama adalah ruang atau tatanan yang utopis, dalam perspektif kearifan dikenal dengan tata tentrem karta rahardja, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Bahwasanya, tatanan sosial itu diharapkan senantiasa pada titik nadir yang tepat, maslahah dan ada rasa saling melengkapi antara satu dengan lainnya.
Pertanyaannya adalah bagaimana menjalani proses menuju cita-cita itu? perangkatnya apa saja? Bagaimana strateginya? Sumberdaya manusianya seperti apa? Energi dan cara pandangan, serta ukuran yang digunakan seberapa? Ini adalah pertanyaan yang pasti akan berkembang, apalagi jika polanya sudah cettho welo-welo. Wa maa arsalnaka illa rahmatan lil’alamin; salah satu perangkat utamanya sudah jelas; Kanjeng Nabi.
Sunnah, nilai dan berbagai moral yang sudah diajarkan sebagai petunjuk bagi umatnya adalah gagasan besar yang tidak hanya melulu berbasis religiusitas, ada juga intelektualitas, kapabilitas, moralitas, spiritualitas dan bisa jadi sensitifitas adalah pondasi utamanya.
Sunnah yang bersifat fundamental dan praktis baik qauliyah pun fi’liyah, agaknya menjadi ruang penekan untuk setiap pribadi umat paling tidak memiliki kesadaran; sensitifitas. Tentu peruntukannya adalah pengabdian kepadaNya, gondelan Kanjeng Nabi Muhammad.
Karena jelas, apapun yang dijalani kudune bermuatan pengabdian, penghambaan, kalaupun nanti dinilai itu adalah kesalehan tidak masalah, terserah yang menilai. Tetapi fokus utamanya adalah penempaan diri melalui belajar dan menghayati uswah dari Kanjeng Nabi.
Sederhananya jenis pekerjaan, status sosial, atau apapun yang menjadi kemelekatan, pakaian, dan segala rupa yang lain, spiritnya adalah pengabdian dan penghambaan. Sekalipun majelisan, pengajian, seminar atau apapun saja, muatannya adalah pengabdian, hubungannya adalah segitiga cinta hamba (begitu kata Gus Syifa’ dari Jabung).
Artinya penghambaan itu jelas arahnya kepada Tuhan, dalam kapasitas syukur dan menjalani perintah, menyambut cinta sejati dari Kanjeng Nabi dalam shalawatnya, menjalani sunnahnya mulai dari yang begitu kecil sampai yang luas spektrumnya, sedangkan kepada sesama manusia adalah cinta dan kasih, gotong royong, peduli dan tidak saling merugikan.
Kalau hari ini yang begitu tampak adalah capaian-capaian sehingga menjadi sekat antara satu dengan lainnya, bahkan dalam diksi keagamaan sekalipun, agaknya bukan lagi kemaslahatan, tapi ada muatan keangkuhan, keakuan dan personal branding yang terbold dan tergarisbawahi.
![]() |
| Ilustrasi Selfness/Pixabay |
Dalam kearifan kita dikenalkan dengan sikap “selesai” dengan dirinya sendiri, walaupun kata selesai tidak bisa dimaknai secara solid berhenti saja, ia memiliki makna proses, proses untuk sampai pada selesai, purna dan pindah dari selesai-selesai yang lain.
Dalam kehidupan sebenarnya tidak ada “si paling-paling” semua berproses sedemikian rupa. Karena yang paling adalah hanya Milik-Nya. Wa lâ tusha‘‘ir khaddaka lin-nâsi wa lâ tamsyi fil-ardli maraḫâ, innallâha lâ yuḫibbu kulla mukhtâlin fakhûr (Qs.16:18) “Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”
Tentu tidak masalah jika personal branding itu menjadi poin pentingnya, tapi bagaimana dengan pijar-pijar menuju kenaikan level manusianya, paling tidak yang menjadi objek dari itu semua? Agama yang dulu menjadi identitas tersembunyi, kini sudah merangkak menjadi agama-agama baru, agama intelektualitas, agama saintifis, agama bisnis, agama seni, agama budayawan dan lain sebagainya. Dasar dogma “pokoknya” menjadi rutinitas yang berseliweran.
Bila ditarik pada pendekatan kebenaran, maka ada kebenaran yang bersifat kolektif, pribadi, sebagian orang dan hakiki. Sayangnya yang kerap dijumpai terpaku pada kebenaran pribadi “menurutku, mungguhe aku, lek jareku,” jadi tidak ada bagaimana dengan mereka, bagaimana dengan temannya, bagaimana dengan skala prioritasnya, dan bagaimana-bagaimana yang lain. Kalaupun sholat, ia terbatas pada konjungsi atas problem yang dialami, atau hanya simbol semata.
Jadi tidak musti sarung atau gamis pilihannya, karena nilai yang muncul dari sikap dan pakaian itu lebih penting. Memahami liyan, sensitifitas, peduli pada lingkungan sekitar, dan tidak memaksakan keangkuhan apalagi kebenaran sendiri. Masalahnya adalah sarung atau gamis kerap menjadi delusi dari kebersamaan, dari kerukunan, apalagi kebenaran sekalipun.
Kesalehan hanya akan menjadi kesalehan ketika nilai dan moralitas adalah praktis fundamentalnya, adalah sikap dan kesalingannya. Kesalehan hanya akan menjadi delusi dari sarung dan gamis, yang tidak sedikit sebagai tipu daya, bahkan mencetak berhala atau memberhalakan dirinya. Wallahu a’lam.[]

Komentar
Posting Komentar