Filosofi Pawon


Ahmaddahri.my.id - Salah satu ruang dalam bangunan yang disebut rumah adalah dapur, pawon dalam konteks jawanya. Di pawon tentu ada bagian-bagian penunjang sehingga jangkep sebagai ruang yang juga vital, selain ruang tamu, jogan, kamar, sarong, dan lain sebagainya. 

Bagian-bagian itu adalah tungku dari tanah liat yang mukti fungsi, tempat menanak nasi, memasak apapun, pun juga untuk cettik menghangatkan badan. Di sudut pawon yang lain ada pogoh, daringan, ranji, rak dandang, dan lain sebagainya. 

Pogoh memiliki fungsi untuk menyimpan hasil panen berupa jagung biasanya yang diikat, atau untuk menyimpan kayu bakar dan lain sebagainya. Begitu juga ranjipedaringan, rak dandang dan media penyimpanan yang lain, ia memiliki ruang untuk menyimpan makanan, perabot dan beketek-an lainnya. 

Pawon secara nilai bukan semata tempat memasak, tetapi tempat berproses untuk mematangkan, kemudian menyajikan hidangan dengan sepenuh hati. Proses, mematangkan dan menyajikan adalah bagian praktis yang perlu ditunjang oleh bagian-bagian fundamental. Bahan dasar diolah dengan sedemikian rupa, kehati-hatian dalam mengolah, menyicipi, ngepasne rasa juga perlu dielmoni secara mendalam. 

Sama-sama nasi dan lauk ayam goreng, yang seharusnya diketahui oleh mereka yang di luar pawon adalah nasi dan ayam goreng, mereka tidak seharusnya menguliti dan meneliti dari mana ayamnya, cara menyembelih dan memasaknya seperti apa. Sedangkan di dalam pawon proses kedewasaannya beragam dan berbeda, dialektika dan keruwetannya beragam, di situlah proses yang - jika meminjam istilah Gus Syifa' Pawon adalah representasi filosofis tentang proses mematangkan kebijaksanaan

Terkadang memang bijak belum tentu menjadi kebijakan, pun kebijakan belum tentu bijaksana, dan bijaksana sendiri jika tidak diiringi dengan proses dan kematangan maka hanya menjadi kenaifan belaka. 

Boleh saja, bahkan bebas, orang mau membuat rumah dengan konsep dapurnya adalah dapur bersih, walaupun juga menyimpan paradoks yang tipis, di satu sisi menekankan penamaan ruang dengan fungsinya memasak dan mematangkan itu adalah dapur, di sisi lain harus bersih, higenis. Bersih berarti tidak kotor, sedangkan setiap proses pasti berjibaku dengan "kotor". 

Sehingga tidak sedikit yang terlalu perhitungan, jangan begini, jangan begitu, nanti kotor, nanti ini, nanti itu, mumet ndase akhire. Berarti di pawon seharusnya berantakan? kotor? atau bagaimana? ya tidak demikian. Konsep penataan pawon sendiri sejatinya sudah tertata, di mana luweng atau tungkunya, di mana posisi pogoh, ranji dan gleddhegnya, sehingga benar-benar menjadi ruang dengan lingkar fungsi yang semestinya. 

Frase "dapur bersih" berarti ya dapur dengan penataan yang rapi, ada meja makannya, lemari perkakas dan segala perabotnya, akhir-akhir ini secara ekonomis dikenal istilah kitchenset yang tentu mulai ada desain rapi dan standart kebersihannya. Standarnya jelas kalau lantainya dikeramik bahkan dilapisi marmer misalnya, lemarinya full dari bahan-bahan kitchenset dan menyalakan apinya tinggal ditekan atau dicolokkan ke listrik. 

Berbeda dengan pawon yang masih perlu ada kayu bakarnya, harus mencari dan mengumpulkannya dari hutan atau gunung, lalu perabotnya gosong-gosong, tetapi ada rasa yang mendalam dalam proses kematangan itu. Kita tidak bisa menjelaskan enak itu sama antara orang satu dengan lainnya, karena sama-sama gurih belum tentu menjadi standart bagi yang lain bahwa itu gurih. 

Proses mematangkan inilah yang turut serta menjadi bekal cah angon, manusia yang mengendalikan baik dlohir pun batinnya. Tentu perlu menemui keruwetan atau dialektika, sebagai proses, dan perlu juga mengumpulkan bahan dan IP (Intellecual property) agar terjadi proses kematangan. Kapan mememerlukan pisau dan telenan, bagaimana mengambil sikap agar bahan makanan di masak menjadi apa, keputusannya harus jelas. 

Kalau tujuannya adalah menanak nasi, maka jangan membatasi pada siapa yang menanam padinya, siapa yang mengolah di pabriknya, atau berapa harga berasnya, tetapi bagaimana agar nasi yang sudah dimasak tidak gosong dan matang dengan sempurna. 

Poin utamanya adalah kematangan, ada ketepatan, ada frame work yang tepat antara pikiran, rasa dan kendali cah angonnya. Jangan karena rebutan dapur bersih kemudian saling tidak sapa dan gontok-gontokan, atau karena masalah yang satu masak di kompor, dan satunya di tungku lantas menjadi pembeda yang berjarak.

Secara nilai, adanya pawon  terletak pada bagaimana proses mematangkan buah pikir, agar keputusan dan langkah yang diambil tidak serampangan, ada kebijaksanaan yang matang, serat keakraban yang terbentuk karena ada kehangatan yang menyebar ke semua sudut pawon di rumah-rumah kita.[]

Komentar