Islam di Istana; Kekuasaan yang Berkelindan
Ahmaddahri.my.id - Media Sosial sempat ramai dengan munculnya (kembali mencuat FYPnya) buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam yang terbit pada 2025. Buku tersebut bukan ditulis langsung oleh Prabowo, melainkan merupakan pembacaan sejumlah penulis (yang beberapa mengklarifikasi tidak merasa menulisnya) terhadap kehidupan, karakter, dan kepemimpinannya dari perspektif nilai-nilai Islam. Kehadirannya mengingatkan kita pada satu romantisme politik Indonesia, seorang presiden hampir selalu menarik untuk dibaca dari hubungan dan kedekatannya dengan Islam.
Mengapa Islam
selalu menjadi bagian penting dalam kekuasaan di Indonesia? Jawabannya tentu
bukan hanya karena Indonesia merupakan negara dengan penduduk mayoritas Muslim.
Islam telah menjadi bagian dari sejarah masyarakat, pendidikan, kebudayaan,
organisasi sosial, gerakan kebangsaan, bahkan perdebatan mengenai bentuk
negara, sehingga hubungan antara Islam dan kekuasaan tidak pernah benar-benar
dapat dipisahkan dari perjalanan Indonesia.
Karena itu,
sejak Soekarno hingga Prabowo, Islam selalu memiliki ruang tertentu di sekitar
kekuasaan. Tentu ini bukan tentang perubahan atas keberadaannya, melainkan cara
setiap pemerintahan memahami, mendekati, mengelola, atau membangun hubungan
dengan kekuatan-kekuatan Islam. Walaupun asumsinya bukan tentang siapa presiden
yang paling Islami, melainkan apa yang terjadi pada Islam ketika berhadapan
dengan kekuasaan dan apa yang terjadi pada kekuasaan ketika membutuhkan Islam.
![]() |
| Beberapa karya yang berkaitan dengan Presiden dan Islam di Indonesia (sumber; Komplikasi by AI) |
Pertama, Soekarno melihat Islam sebagai Gagasan. Ia merupakan titik awal yang penting untuk memahami hubungan Islam dan kekuasaan di Indonesia. Dalam berbagai tulisan dan pemikirannya, termasuk Di Bawah Bendera Revolusi, Islam Sontoloyo, serta surat-surat dari Ende, terlihat bahwa Islam menjadi bagian dari pergulatan intelektualnya. Soekarno tidak memandang Islam sebagai tradisi yang telah selesai, tetapi sebagai kekuatan yang harus mampu bergerak mengikuti perkembangan zaman.
Karena itu,
Soekarno menginginkan Islam yang dinamis, rasional, dan mampu berdialog dengan
ilmu pengetahuan serta modernitas. Kritiknya terhadap praktik keberagamaan
terkadang bahkan terdengar keras, tetapi kritik tersebut menunjukkan bahwa ia
ingin agama memiliki daya pembaruan dalam kehidupan masyarakat. Persoalan yang
dihadapi Soekarno bukan hanya bagaimana Islam dipahami, melainkan bagaimana
Islam ditempatkan dalam sebuah negara Indonesia yang baru saja lahir, saat itu.
Perdebatan
mengenai Piagam Jakarta dan dasar negara memperlihatkan rumitnya persoalan
tersebut. Indonesia akhirnya tidak menjadi negara Islam, tetapi juga tidak
menyingkirkan agama dari ruang publik; Pancasila menjadi jalan kompromi
historis yang kemudian menjadi fondasi hubungan agama dan negara. Pada masa
Soekarno, Islam dengan demikian hadir sebagai gagasan pembaruan sekaligus
kekuatan sosial-politik yang harus dinegosiasikan dengan nasionalisme.
Kedua, Soeharto yang membawa hubungan agama dangan
politik ke wilayah yang lebih subtil, bagaimana negara mengelola Islam. Untuk
memahami sisi ini, berbagai karya tentang Soeharto menjadi penting, termasuk
Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia, dan Kejawen karya Bambang Wiwoho serta
Menggali Falsafah Pak Harto karya Servas Mario Patty. Karya-karya tersebut
memperlihatkan pertemuan antara Islam, Jawa, kebatinan, laku spiritual, dan
kekuasaan.
Pada awal Orde
Baru, hubungan negara dengan politik Islam berlangsung dalam suasana yang cukup
tegang. Namun hubungan itu kemudian berubah, terutama ketika negara mulai
semakin akomodatif terhadap sebagian kekuatan Islam, dan berdirinya ICMI pada
1990 menjadi salah satu penanda penting perubahan tersebut. Islam pada tahap
ini tidak lagi hanya dipandang sebagai keyakinan, tetapi juga sebagai kekuatan
sosial yang harus diperhitungkan oleh negara.
Soeharto
menunjukkan bahwa kekuasaan tidak selalu harus berhadapan secara terbuka dengan
agama. Kekuasaan dapat membatasi, mengatur, mengakomodasi, sekaligus membangun
kedekatan dengan kekuatan keagamaan sesuai dengan kepentingannya. Hubungan
semacam ini kemudian menjadi salah satu pola penting dalam sejarah politik
Indonesia.
Ketiga, Habibie, kita dapat melihat bagaimana
Islam bertemu ilmu dan teknologi. B.J. Habibie menghadirkan corak yang berbeda.
Melalui karya seperti Habibie dan Ainun, Detik-Detik yang Menentukan, dan BJ
Habibie, The Power of Ideas, terlihat bagaimana Islam berkelindan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, pendidikan, dan pembangunan manusia. Habibie juga
menjadi tokoh sentral ICMI, sehingga hubungan Islam dengan kelompok terdidik
dan profesional memperoleh ruang yang semakin besar.
Di tangan
Habibie, Islam tidak hanya diasosiasikan dengan pesantren atau politik umat,
tetapi juga dengan kaum terdidik, birokrasi, teknologi, dan modernitas. Ada
keyakinan bahwa iman dan ilmu tidak harus dipertentangkan karena keduanya dapat
berjalan beriringan untuk menghasilkan kemajuan. Islam seolah memasuki ruang
baru, yakni ruang yang mempertemukan keyakinan dengan laboratorium modernitas.
Keempat, Gus Dur, jangan ditanya, beliau sangat
erat dengan tradisi pesantren, pun penggagas negeri ini, kita dapat membaca
karya-karya beliau sehingga islam tidak harus menguasai negara. Kemunculan Gus
Dur membawa perubahan penting dalam cara hubungan Islam dan kekuasaan dipahami.
Melalui Islamku, Islam Anda, Islam Kita, Tuhan Tidak Perlu Dibela, Menggerakkan
Tradisi, dan berbagai esainya, Gus Dur mempertemukan Islam dengan pesantren, tradisi,
kebudayaan, demokrasi, pluralisme, serta kemanusiaan. Gagasan pribumisasi Islam
menjadi salah satu pintu penting untuk memahami pemikirannya.
Bagi Gus Dur,
Islam tidak harus kehilangan akar kebudayaan tempat ia tumbuh. Lebih dari itu,
ia tidak menganggap Islam akan menjadi kuat hanya ketika menguasai negara;
agama justru dapat memberikan kontribusi melalui moralitas, pendidikan,
tradisi, dan pembelaan terhadap manusia. Dari sini muncul sebuah pelajaran
penting bahwa kekuasaan negara tidak harus menjadi alat untuk memaksakan agama
agar nilai agama dapat hidup dalam masyarakat.
Kelima, Megawati dan persoalan identitas
kebangsaan. Megawati menghadirkan persoalan yang berbeda. Tidak banyak karya
sistematis yang dapat disebut sebagai karya Megawati tentang Islam, sehingga
hubungan tersebut lebih tepat dibaca melalui pidato, kebijakan, relasi politik,
dan berbagai karya tentang dirinya. Persoalannya bukan terutama mengenai
teologi Islam Megawati, melainkan bagaimana seorang pemimpin dengan identitas
Soekarnois dan nasionalis berhadapan dengan masyarakat Indonesia yang mayoritas
Muslim.
Megawati
memperlihatkan bahwa dalam politik Indonesia, identitas keagamaan dan identitas
kebangsaan tidak pernah benar-benar terpisah. Penghargaan terhadap pemikiran
Ahmad Syafii Maarif mengenai Islam dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan
juga menunjukkan bahwa pertanyaan lama tetap relevan: bagaimana Islam menjadi
bagian dari keindonesiaan tanpa kehilangan substansinya. Persoalan ini terus
muncul karena agama dan kebangsaan sama-sama memiliki tempat kuat dalam
kehidupan masyarakat Indonesia.
Keenam, kita bisa melihat SBY dan islam sebagai
etika kekuasaan. Pada masa Susilo Bambang Yudhoyono, bahasa Islam semakin dekat
dengan persoalan etika. Buku SBY dan Islam karya Munawar Fuad Noeh dan Dunia
Religius SBY karya Arwan Tuti Artha memperlihatkan dimensi religius SBY,
termasuk hubungannya dengan Al-Qur'an, ibadah, pesantren, kiai, budaya Jawa,
dan nilai-nilai spiritual. Pada masa ini, Islam semakin sering dibicarakan
sebagai sumber moral bagi kehidupan demokrasi.
Kata-kata
seperti amanah, akhlak, kesantunan, moderasi, perdamaian, dan tanggung jawab
menjadi penting dalam pembicaraan mengenai kepemimpinan. Pertanyaannya pun
mulai bergeser, bukan lagi terutama apakah Indonesia harus menjadi negara
Islam, melainkan bagaimana sebuah negara yang bukan negara Islam dapat
menjalankan pemerintahan dengan nilai-nilai moral yang sejalan dengan ajaran
Islam. Pergeseran ini menunjukkan bahwa hubungan Islam dan kekuasaan mulai
bergerak dari perdebatan mengenai bentuk negara menuju persoalan kualitas
pemerintahan.
Ketujuh, Jokowi yang erat dengan jaringan keumatan.
Pada masa Jokowi, hubungan pemerintah dengan Islam semakin terlihat secara
institusional. Berbagai karya seperti Keislaman Jokowi, Jalinan Keislaman,
Keumatan & Kebangsaan, dan Jokowi dan Islam: Praktik Kepemimpinan Islami
Joko Widodo menunjukkan beragam cara membaca hubungan tersebut. Hubungan dengan
NU, pesantren, dan para ulama menjadi bagian penting dari konfigurasi sosial
pemerintahan.
Hari Santri,
kunjungan ke pesantren, kedekatan dengan ulama, serta komunikasi dengan
organisasi Islam memperlihatkan bahwa jaringan keumatan mempunyai posisi
penting dalam kehidupan politik. Namun hubungan tersebut perlu dibaca secara
kritis karena kedekatan antara penguasa dan organisasi Islam tidak hanya
memiliki dimensi religius, tetapi juga dimensi politik. NU mempunyai jaringan
sosial luas, pesantren memiliki akar masyarakat yang kuat, dan ulama memiliki
otoritas moral, sehingga hubungan tersebut selalu berada di persimpangan antara
agama, masyarakat sipil, dan legitimasi kekuasaan.
Dan kedelapan,
Atribusi terhadap Prabowo dan Islam sebagai Laku Kepemimpinan. Kini kita
sampai pada Prabowo. Islam ala Prabowo menarik bukan karena menawarkan sistem
teologi baru, melainkan karena mencoba membaca Prabowo melalui tindakan dan
kepemimpinannya, moralitas, tanggung jawab, keadilan, perdamaian, nasionalisme,
dan kesejahteraan. Karena itu, istilah “Islam ala Prabowo” lebih menarik jika
dipahami bukan sebagai mazhab baru, tetapi sebagai upaya melihat bagaimana
nilai Islam diterjemahkan ke dalam laku seorang pemimpin negara.
Dalam hal ini,
Prabowo memiliki penekanan yang agak berbeda dari para pendahulunya. Jika
Soekarno banyak berbicara mengenai gagasan Islam, Habibie mempertemukannya
dengan ilmu dan teknologi, dan Gus Dur menghubungkannya dengan tradisi serta
kemanusiaan, Prabowo lebih dekat dengan gagasan Islam sebagai karakter
kepemimpinan. Hubungannya dengan NU, pesantren, Muhammadiyah, ulama, dan
isu-isu dunia Islam memperlihatkan bahwa hubungan agama dan kekuasaan terus
menemukan bentuk baru.
Islam,
Atribusi dan Etika Kekuasaan
Jika perjalanan
Soekarno sampai Prabowo dirangkum, terlihat adanya perubahan cara Islam hadir
dalam kekuasaan. Soekarno membawa Islam ke wilayah gagasan, Soeharto
mengelolanya sebagai kekuatan sosial, Habibie mempertemukannya dengan ilmu dan
teknologi, Gus Dur dengan tradisi dan kemanusiaan, Megawati dengan kebangsaan,
SBY dengan etika demokrasi, Jokowi dengan jaringan keumatan, dan Prabowo
mencoba membacanya sebagai laku kepemimpinan.
Dari perjalanan
tersebut, kita dapat memahami bahwa Islam penting bagi kekuasaan Indonesia
bukan semata-mata karena jumlah umatnya. Islam telah menjadi bagian dari
sejarah sosial, kebudayaan, pendidikan, moralitas, dan pembentukan bangsa
Indonesia, sehingga presiden sebenarnya tidak sedang berhadapan dengan Islam
sebagai sesuatu yang berada di luar negara. Presiden berhadapan dengan Islam
sebagai bagian dari Indonesia itu sendiri.
Namun kedekatan
dengan Islam tidak otomatis membuat sebuah kekuasaan menjadi Islami. Penggunaan
simbol keagamaan juga tidak serta-merta menunjukkan kedalaman moral seorang
pemimpin, sebab ukuran yang lebih penting justru terletak pada apa yang
dilakukan kekuasaan terhadap manusia: apakah ia adil, amanah, melindungi yang
lemah, memberantas korupsi, menghadirkan kesejahteraan, dan menjaga martabat
rakyat.
Mungkin di
situlah perubahan paling penting dalam perjalanan Islam dan kekuasaan
Indonesia. Perdebatan perlahan bergerak dari pertanyaan “apakah negara harus
Islam?” menuju pertanyaan yang jauh lebih berat: apakah kekuasaan di negeri
mayoritas Muslim ini mampu menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan
nyata?
Sebab jika Islam
hanya berhenti pada simbol, ia mudah berubah menjadi ornamen kekuasaan. Tetapi
jika Islam diterjemahkan menjadi keadilan, amanah, ilmu, kemanusiaan,
kesejahteraan, dan perlindungan terhadap rakyat, maka ia menjadi sesuatu yang
jauh lebih besar daripada identitas politik. Ia menjadi etika kekuasaan.
Agaknya, di situlah benang merah perjalanan Islam dari Soekarno sampai Prabowo,
bukan tentang siapa presiden yang paling Islami, melainkan tentang bagaimana
Islam terus-menerus menagih moralitas kepada kekuasaan Indonesia.[]



Komentar
Posting Komentar