Membaca Bareng Cak Nam
Ahmaddahri.my.id - Beberapa purnama ini, saya hampir dikatakan sering berkunjung ke desa Gubuk Klakah, sebuah desa di kaki Gunung Semeru, Bromo lebih tepatnya. Saya baru mengenal Cak Nam, ia dikenal sebagai pejalan, salik dalam tradisi tasawuf.
Konon, tidak ada yang tahu pasti kapan ia berangkat dan kapan pulang. Saat ini, ia adalah petani, katanya petani Santai, karena di sekitarnya tidak sedikit yang menanam sayur, dan Bertani nyengkut, biar cepat hasil. Sedangkan Cak Nam fokus menanam pisang, mbote, dan beberapa kopi.
Menariknya, Ia bukan kiai apalagi Romo Dhukun, bukan pula guru yang memiliki banyak murid. Tetapi orang-orang sering merasa pulang membawa sesuatu setiap kali selesai berbincang dengannya.
Malam itu, ketika kabut mulai turun dari lereng gunung dan kopi hitam mengepul dari gelas-gelas sederhana, beberapa anak muda duduk melingkar di salah satu rumah pemuda desa. Pembicaraan mengalir ke mana-mana. Tentang panen yang terlambat, harga pupuk yang tak menentu, politik yang semakin sulit dipahami, hingga persoalan agama yang tak pernah habis diperbincangkan.
Di tengah obrolan itu, seorang pemuda bertanya,
“Cak, benarkah Dajjal akan datang?”
Cak Nam tersenyum. Ia mengaduk kopinya yang sebenarnya sudah tidak perlu diaduk lagi.
“Mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan kapan Dajjal datang,” katanya pelan, “tetapi apakah kita sedang memberi tempat bagi sifat-sifatnya tumbuh di dalam diri kita.”
Anak-anak muda yang duduk melingkar saling berpandangan.
“Maksudnya bagaimana, Cak?”
Cak Nam menunjuk matanya sendiri.
“Banyak kisah menggambarkan Dajjal dengan mata satu. Saya tidak sedang membahas bentuk fisiknya. Saya hanya sedang berpikir, jangan-jangan itu juga pelajaran tentang cara pandang manusia.”
“Bagaimana cara pandang mata satu?”
“Memandang hanya dari satu sisi.”
Semua terdiam.
Cak Nam melanjutkan. “Ketika kita bertengkar dengan seseorang, bukankah kita hampir selalu merasa diri kita yang paling benar? Ketika kelompok kita berbeda dengan kelompok lain, bukankah kita sering melihat kesalahan mereka dan sulit melihat kekurangan kita sendiri? Ketika gengsi kita terluka, bukankah kita lebih sibuk mempertahankan harga diri daripada mencari kebenaran?”
Seorang pemuda mengangguk pelan.
“Mata satu itu bukan berarti tidak punya dua bola mata. Bisa jadi dua-duanya lengkap, tetapi yang dipakai hanya satu sudut pandang.”
Angin gunung berembus perlahan. Di kejauhan terdengar suara azan dari surau kecil yang berdiri di antara pohon-pohon pinus.
“Dalam banyak urusan,” lanjut Cak Nam, “manusia sering menjadi hakim sebelum menjadi saksi. Ia sudah memutuskan siapa yang salah sebelum mendengarkan. Ia sudah menentukan siapa yang benar sebelum memahami. Ia sudah menilai sebelum mengenal.”
“Karena ego?” tanya seseorang.
“Karena ego. Karena gengsi. Karena ketakutan kehilangan kedudukan. Karena merasa lebih suci. Karena merasa lebih pintar. Banyak sekali sebabnya.”
Cak Nam kemudian mengambil sebutir kerikil dan meletakkannya di atas meja.
“Coba lihat batu ini.”
Semua melihat batu itu.
“Apa warnanya?”
“Abu-abu.”
“Kelihatannya begitu.”
Lalu Cak Nam memindahkan batu itu ke dekat lampu warung.
“Warna yang sama?”
“Agak berbeda.”
Ia lalu membawanya ke dekat pintu yang mulai gelap.
“Beda lagi.”
Cak Nam tersenyum.
“Batu yang sama. Tetapi cahaya yang berbeda membuat persepsi kita berubah. Apalagi manusia. Apalagi sebuah peristiwa. Apalagi sebuah konflik.”
Semua terdiam.
Sering kali kita merasa sedang membela kebenaran, padahal yang kita bela hanyalah posisi kita sendiri. Kita mengira sedang memperjuangkan prinsip, padahal yang diperjuangkan sebenarnya gengsi agar tidak terlihat kalah.
Padahal kebenaran tidak pernah membutuhkan kesombongan untuk menjadi benar.
Kebenaran tidak menjadi lebih mulia hanya karena diteriakkan lebih keras.
“Kalian tahu,” kata Cak Nam, “mengapa banyak perselisihan tidak pernah selesai?”
Karena tidak ada yang mau melihat dengan mata yang satunya.
“Maksudnya?”
“Maksudnya, semua orang ingin dipahami, tetapi tidak semua orang mau memahami. Semua orang ingin didengarkan, tetapi tidak semua orang mau mendengarkan.”
Ia menyeruput kopinya.
“Kalau ada dua orang bertengkar, biasanya masing-masing membawa cermin. Mereka sibuk menunjukkan noda di wajah lawannya. Padahal cermin itu seharusnya dipakai untuk melihat wajah sendiri.”
Beberapa orang tertawa kecil.
Namun tawa itu segera berubah menjadi keheningan.
Mereka tahu, yang sedang dibicarakan bukan orang lain.
Mereka tahu, yang sedang disindir adalah diri mereka sendiri.
Kabut semakin turun.
Lampu-lampu rumah mulai menyala satu per satu di lereng desa.
Cak Nam memandang ke arah gunung yang puncaknya tidak terlihat.
“Lihat Semeru itu.”
“Ya, Cak.”
“Dari desa ini kita melihat satu sisi. Orang di desa sebelah melihat sisi yang lain. Pendaki melihat sisi yang berbeda lagi. Tetapi gunung tidak berubah hanya karena cara pandang kita berbeda.”
“Artinya?”
“Artinya kenyataan sering kali lebih besar daripada pendapat kita tentang kenyataan itu.”
Kalimat itu membuat semua kembali diam.Bukankah banyak keributan lahir karena manusia menganggap pendapatnya sama dengan kenyataan? Bukankah banyak permusuhan lahir karena orang merasa sudut pandangnya adalah satu-satunya jendela menuju kebenaran? Padahal manusia hanya melihat sebagian. Selalu sebagian. Tidak pernah seluruhnya.
Cak Nam menatap jauh ke arah gelap yang menyelimuti lereng gunung.
“Lihatlah gunung itu. Tidak ada seorang pun yang bisa melihat seluruh sisinya sekaligus. Orang yang berdiri di timur akan bercerita tentang sisi timur. Orang yang berdiri di barat akan bersaksi tentang sisi barat. Keduanya bisa benar, tetapi keduanya tidak sedang melihat keseluruhannya.”
“Mungkin itulah sebabnya kerendahan hati menjadi penting,” lanjutnya. “Bukan karena kita pasti salah. Tetapi karena mungkin saja ada bagian yang belum kita lihat.”
Seorang pemuda yang sejak tadi diam akhirnya bertanya.
“Kalau begitu, bagaimana supaya tidak menjadi manusia yang hanya melihat sebelah sisi?”
Cak Nam tertawa pelan.
“Sulit.”
Mereka ikut tertawa.
“Lalu bagaimana, Cak?”
“Mulailah dengan curiga pada dirimu sendiri sebelum curiga kepada orang lain.”
Tawa mereka berhenti.
“Sebelum mengatakan orang lain salah, tanyakan apa yang belum kita pahami. Sebelum marah, tanyakan apa yang belum kita dengar. Sebelum merasa paling benar, tanyakan apa yang belum kita ketahui.”
Ia berhenti sejenak.
“Lawan terbesar manusia sering kali bukan orang lain.”
“Tetapi?”
“Dirinya sendiri.”
Ego yang ingin menang. Gengsi yang tidak mau kalah. Kesombongan yang menyamar sebagai kebenaran. Keinginan untuk selalu dipuji. Keengganan untuk mengakui kekeliruan. Dan anehnya, semakin seseorang berhasil mengalahkan semua itu, semakin tenang hidupnya. Ia tidak mudah tersinggung. Tidak mudah merasa diremehkan. Tidak mudah marah ketika berbeda pendapat. Karena ia sadar bahwa dirinya juga sedang belajar. Sama seperti orang lain.
Malam semakin turun. Orang-orang mulai beranjak pulang. Tidak ada kesimpulan besar. Tidak ada pidato yang menggelegar. Hanya kopi yang tinggal ampasnya dan percakapan yang tinggal gema di kepala.
Cak Nam berdiri perlahan. Ia memandang ke arah lereng Semeru yang semakin tertutup kabut.
“Kadang masalah terbesar manusia bukan karena ia tidak tahu,” katanya pelan.
Semua menoleh.
“Tetapi karena ia terlalu cepat merasa tahu.”
Tidak ada yang menjawab.
“Kita sering mengira sedang mencari kebenaran, padahal yang kita cari hanyalah pembenaran. Kita merasa sedang membela prinsip, padahal yang kita bela sebenarnya gengsi. Kita merasa sedang melihat kenyataan, padahal yang kita lihat sering kali hanya potongan kecil yang kebetulan cocok dengan keinginan kita.”
Angin malam berembus pelan. Kabut bergerak turun seperti tirai yang perlahan menutupi lereng gunung.
“Kenyataan selalu lebih luas daripada pikiran kita. Karena itu manusia perlu rendah hati. Bukan untuk merendahkan dirinya, tetapi untuk memberi ruang bagi kemungkinan bahwa masih ada sesuatu yang belum ia pahami.”
Orang-orang terdiam. Masing-masing seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Cak Nam lalu melangkah pergi. Tidak ada nasihat terakhir. Tidak ada petuah panjang. Hanya jejak langkah yang perlahan hilang di jalan desa. Dan entah mengapa, malam itu banyak orang pulang dengan pertanyaan yang sama; “Selama ini aku sungguh-sungguh mencari kebenaran, atau hanya sedang mencari alasan untuk membenarkan diriku sendiri?”
***
Gubuk Klakah - Pojok, 2026



Komentar
Posting Komentar